KEBAHAGIAAN DALAM KESEDERHANAAN

“felicia dan ilona, dengan ibu martowiyono?”

saya dan teman serumah saya segera berdiri ketika mendengar nama kami disebut. seorang ibu paruh baya menghampiri kami dengan senyum lebar di wajahnya. bu marto menyambut kami dengan hangat. kebaikannya terpancar dari bagaimana beliau memperlakukan kami layaknya anak sendiri.

perjalanan ke rumah bu marto tidak jauh, saya dan ilona bersyukur karena tidak harus melalui tanjakan tinggi yang akan dilalui teman-teman kami yang rumahnya di atas. namun, rumah Ibu agak jauh dari jalan besar, dan hanya ada satu rumah yang dekat dengan rumah Ibu.

“rumah ibu yang itu. maaf yo, rumah ibu jelek. gak kayak rumah yang di seberang itu,” kata ibu dengan malu ketika kami sampai di depan rumah beliau. saya bingung kenapa ia bisa berkata demikian. padahal, rumah beliau sudah melampaui ekspektasi kami.

“anu, bapak sudah nggak ada, jadi ibu cuma tinggal sama cucu,” lanjutnya sambil membuka pintu. saya seketika merasa iba melihat ibu yang telah kehilangan suaminya harus ditinggal anak-anaknya untuk bekerja ke jakarta.

(malam itu, kami menghadiri misa arwah dari sepasang suami istri. ibu terlihat sedih, mungkin karena teringat bapak. saya hanya menawarkan sebuah senyum kepadanya, tidak berani bertanya apa-apa tentang bapak. sampai saya pulang pun saya tidak bertanya.)

pagi berikutnya, kami pergi ke gereja bersama. karena ibu tidak punya motor, pergilah kami ke gereja dengan berjalan kaki selama kurang lebih setengah jam. sepulangnya dari gereja, kami tepar karena kecapekan lalu langsung kembali meneruskan tidur kami. betapa kagetnya kami ketika kami bangun dan menemukan ibu sedang mengupas singkong di dapur.

“ibu tadi ke ladang, ngambil singkong buat bikin geblek.” ketika ditanya mengapa beliau pergi sendirian dan tidak mengajak kami, ia menjawab, “ah, ladangnya jauh. nanti kamu capek. kamu gausah ikut ke ladang, ibu aja yang ke ladang.”

saya dan ilona hanya bisa bengong mendengar perkataan ibu. kami merasa hanya membebani dan menambah-nambah pekerjaan ibu yang sudah berat. namun ketika kami meminta maaf, beliau hanya menggeleng. “sini, bantu ibu bikin geblek aja.”

sore itu kami isi dengan memarut singkong sampai lengan kami mati rasa. ajaib, hasil parutan ibu seorang diri lebih banyak daripada hasil parutan saya dan ilona digabungkan. dari situlah kami baru menyadari betapa beratnya pekerjaan ibu setiap harinya.

malam itu kami habiskan dengan menonton sinetron sambil makan indomie. saya dan ilona membuatkan indomie untuk ibu karena kami ingin menebus perbuatan kami karena tidak pergi ke ladang, namun kami hanya bisa masak yang gampang-gampang. dibandingkan dengan masakan ibu yang enak-enak, yang membuat saya selalu nambah satu porsi setiap kali makan, kami merasa sangat cupu. walaupun begitu, ibu tampak sangat bahagia ketika kami keluar dari dapur dan membawakan indomie untuknya.

memang ini hanya indomie biasa, bukan mekdi kesukaan saya. dan memang kami menonton sinetron yang saya tidak pernah tonton sebelumnya, bukan video-video di youtube yang saya tonton setiap malam. tapi di dalam keadaan yang asing ini, saya menemukan kenyamanan.

kami menertawakan sinetron yang alay itu sambil menyeruput indomie kami. betapa saya dan ilona bingung karena ceritanya tidak masuk akal. sementara ibu yang mengikuti sinetron tersebut dari awal menjelaskan kepada kami alur ceritanya dan kami tidak bisa berhenti tertawa.

malam itu, saya merasa hangat. mungkin karena indomie yang ada di dalam perut saya, tetapi lebih karena saya merasakan kekeluargaan yang tidak sering saya rasakan di rumah. dan meskipun saya harus tidur di kasur rotan yang keras, bukan kasur spring bed empuk saya di jakarta, dan saya tahu besok pagi satu badan saya pasti sakit semua, saya berpikir – ini juga nyaman. saya bisa seperti ini. lalu saya tertidur dan berharap ayam-ayam akan berkokok untuk membangunkan saya besok pagi.

disinilah saya sadar, saya telah menemukan kebahagiaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s